Sukar bagiku menerima ini semua. Penyesalan selalu berada diakhir
cerita, ketika semua telah menjadi nyata. Tiada kesempatan bagiku untuk
mengulang kembali apa yang telah terjadi. Semua telah berlalu dan hanya
meninggalkan perih dihati. Mungkin dari cerita ini , dapat aku ungkapkan
mengenai erti sebuah kesetiaan cinta yang tak boleh dinilai dengan apapun
didunia yang fana ini.
Aku bukanlah seorang lelaki yang setia. Aku telah buta menilai akibat
sebuah cita-cita. Cita – cita untuk memiliki apa yang pasangan lain punya,
yaitu sebuah cinta kasih , yang akan melengkapi arti dari sebuah pernikahan.
Hasil pada akhirnya itu aku menjadi salah satu yang salah dalam mengartikan
makna sebuah cinta. Perkenalanku dengan Zahara gadis yang telah menggoda hatiku
dengan bentuk badan yang menggiurkan, gaya hidup yang penuh social untuk
mewujudkan cita-citaku melalui cinta yang lain selain Aisyah, bekas
tunangku. Aisyah jauh lebih muda dan kami masih belum merancang untuk
mendirikan rumah tangga dalam masa terdekat. Walaupun berat akhirnya Aisyah aku
duakan cintanya tanpa kerelaannya, kutahu hatinya pasti terluka namun bisikan
hasrat itu begitu kuat, menutup mata hatiku sehingga aku menjadi buta dan salah
dalam mengatur erti cinta sebenar.
Hari demi hari berlalu, sejak janji terucap untuk Zahara, namun hal yang
samapun terjadi , semua terbatas dan tidak terwujud secara nyata. Hal ini
sangat berat membebani jiwa dan pikiranku sehingga aku merasakan sesuatu yang
aneh dalam diriku. Tiba-tiba kesadaranku berkurang dari hari kehari dan
akhirnya akupun tertidur dan terpenjara dalam alam mimpiku. Setelah itu aku
tidak tahu apa –apa lagi mengenai dunia ini terasa bagai tidurku bagai tidur
yang panjang.
Berbulan-bulan aku terpenjara dalam buayan mimpi terasa terlalu asing bagiku,
namun yang ku tahu setelah hari itu hanyalah suara lembut yang seakan-akan
memanggilku untuk kembali ke alam nyata. Suara yang lembut, tulus dan mampu
menggetarkan alam mimpiku. Suara yang jauh namun begitu dekat dihatiku, Aku
terus berlari mencari dan terus mencari sumber dari mana suara itu. Aku seakan
berada dalam sebuah hutan yang sangat luas . Aku rasakan bagai mendayu-dayu
suara itu memangilku, tercari-cari arah mana datangnya suara itu dalam
perlahan-lahan semakin jauh dan terus menjauh lalu hilang dalam kegelapan.
Perlahan-lahan aku sedar dari tidur yang panjang ,mataku buka bagai melekat
kelopak mataku, dari pandangan kabur perlahan-lahan semakin jelas kelihatan,
Doktor mengatakan bahwa diriku mengalami koma akibat penyakit barah otak yang sedia
ada, mungkin aku terlalu memikirkan sesuatu hal yang terlalu berat sehingga aku
mengalami gangguan pada sistem otakku.
Ketika aku sedar tiada siapapun disampingku. Terlalu sungguh menyedihkan
dihatiku namun seorang Jururawat mengatakan padaku bahwa malam tadi bekas
tunangku, Aisyah Maq’surah telah meninggal dunia saat menungguku dan menjagaku
disini. Jururawat itu mengatakan bahwa Aisyah jarang tidur karena selalu
menjagaku setiap hari. Sedangkan ia tahu bahwa dirinya mengidap barah hati
namun ia tetap setia menjagaku sampai tiada waktu untuk beristirahat
sekalipun. Sungguh terharu dan tanpa kusadari air mataku menitis mendengar
cerita jururawat itu. Jururawat itu mengatakan bahwa Aisyah selalu memanggilku
dengan bisikan ditelingaku untuk menyadarkanku dari koma dan membacakan
surah-surah AlQuran untukku. Setelah selesai mendengar hatiku meruntun sayu,
jiwaku bagai tidak bermaya, kepalaku pusing terasa pening dan langsung tak
sadarkan diri terasa gelap kembali hidupku kini. Aku terfikir, mengapa bukan
Zahara yang patut disisiku. Ahhh.. makin sakit kepalaku memikirkan hal ini.
Seminggu kemudian aku baru sadar kembali dan akan tetapi kali ini ada
Zahara, isteriku disisiku. Aku berusaha bangkit namun doktor melarangku dan
mengatakan padaku supaya aku menjaga kesihatanku jangan terlalu banyak berfikir
karena bila aku pengsan lagi dikhawatiri aku akan menderita koma yang
berterusan. Zahara tersenyum padaku , lalu aku bertanya “ dimana kamu ketika
abang koma ? “ dan Zahara mengatakan dengan lembut , “ Istirahatlah Abang,
nanti bila kesihatan abang baik Zahara akan menceritakan semuanya…”, sambilku
lihat wajah Zahara sayu sambil menyelimutiku kembali dan mencium keningku,
namun air mataku tetap membias dipelupuk mataku. Ketika aku terlantar sakit,
Zahara terpaksa ke luar negeri untuk menandatangani projek yg baru syarikatnya
terima. Dan sepanjang itulah, Aisyah berada disisiku sehingga nafasnya yang
terakhir.
Sebulan kemudian, akhirnya kesihatanku benar-benar pulih. Selang
beberapa hari lagi Doktor mengizinkanku untuk pulang , namun tetap harus selalu
datang ke Hospital rawatan susulan. Saat hari itu tiba masanya aku menjenguk
pusara Aisyah. Aku tertunduk malu didepan pusaranya dan air mataku menitis
seakan penuh sesal karena tak sempat mengucapkan terima kasih atas pengorbanan
cintanya, betapa hinanya diriku didepan nisan kaku tertulis nama Aisyah
Maq’surah. Benar hari ini seorang lelaki yang tak setia memegang janji
cintanya, telah terduduk dihadapan pusaranya yang jasadnya tak lagi ada diatas
dunia ini, yang ada hanya jasad yang terkubur dibawah taburan bunga melati ,
tempat beristirehat terakhir manusia di dunia yang fana ini. Baru aku faham
kehadiran cintanya membuatkan aku meningati Ya Rabb, mendekatkan diriku pada
yang Esa. Namun kini, hatiku kkosong tanpa Aisyah disisi. Alangkah hinanya hati
ini mengejar cinta yang penuh nafsu.
Lalu Zahara memecah lamunan kesedihanku, “ Abang , kenapa ni? Abang kan
sudah sihat..apa yang abang fikirkan lagi? “ Tangan Zahara memegang erat tangan
suaminya. Aku menarik deras, tatkala ini aku merasakan Zaharalah punca
segalanya, sedangkan dahulu aku juga yang menyuntingnya menjadi ratu
hatiku, tanpa memikirkan perasaan Aisyah.
Sebelum subuh keesokan harinya aku sudah sampai di pejabat, aku ingin
mencari ketenangan disini, aku masih terfikirkan Aisyah, si gadis ayu bertudung
labuh,milik imam di kampungku, kecil molek tubuhnya, aku rindukan iman yang dia
miliki, aku rindukan kata-kata pujangga Islam yang selalu dia berikan padaku
sebagai peransang semangatku. Tapi bagaimana dia dapat tahu aku keseorangan
terlantar di hospital? Mungkin dia mendapat tahu berita tentang diriku dari
setiausahaku. Tiba-tiba, aku terlihat sampul surat merah jambu dibawah frame
gambar perkahwinan aku dengan Zahara dahulu. Aku mencapai lalu kubaca isi surat
itu :
Assalamualaikum , Wr , Wb
Buat Abang Adi yang terlalu Aisyah
sayang tiada insan lain yang bertahta dihati kecil ini lahir dari hati
yang suci kurniaan dari Allah Rabul Izati
Alhamdulillah , kuucapkan syukur pada
Allah hari ini atas kurniaan Allah untuk orang yang aku pernah damba sebagai
pemimpinku. Aku yakin saat ini abang sedang membaca suratku ini , abang sudah
dalam keadaan sihat seperti yang kuimpikan dan kunantikan selama ini.
Abang Rusdi yang amat Aisyah cintai,
mungkin pada saat ini abang membaca surat ini Aisyah sudah mendahuluimu
meninggalkan dunia fana ini, namun izinkan terlebih dahulu Aisyah memohon maaf
bila ada kesalahan Aisyah yang mungkin tidak yang terbaik buat abang dalam
sepanjang melayari hari bahagia kita bina selama ini dan ketaatan Aisyah pada
abang selama ini.
Abang Rusdi, kekasih Aisyah suatu
ketika dahulu yang paling baik didunia mahupun di akhirat, janganlah bersedih
apalagi menumpahkan air matamu dipusaraku kelak. Aisyah mahu abang hadir
dipusara Aisyah dan tersenyum pada Aisyah , supaya Aisyah puas bahwa
pengorbanan Aisyah selama ini tidak sia – sia. Aisyah tetap menanti abang
walaupun bukan Aisyah yang abang pilih untuk menemani hidup abang didunia ini.
Abang Rusdi yang sangat kucintai,
Aisyah yakin sekarang Zahara ada disampingmu, Aisyah tidak dapat menjadi yang
terbaik untuk abang. Aisyah tahu, abang lebih memerlukan cinta dari Zahara
berbanding cinta Aisyah. Demi cinta itu, Aisyah korbankan cinta Aisyah untuk
abang yang sekian lama tercipta. Aisyah tidak tahu, sama ada abang sedih dengan
permergian Aisyah atau sebaliknya. Teruskan kehidupan ini dengan berbahagia
wahai kekasih hatiku, sampai saatnya tiba kelak , manakala Allah memberikan
batas waktu pada ciptaan-Nya. Aku akan menantimu kelak di pintu syurga. Aku
takkan mengucapkan selamat tinggal padamu karena aku tahu , aku tetap dihatimu.
Buat kekasihku selamanya, Mohd Rusdi
Ramlee.
Wassalam
Kucium surat itu, sebagai tanda rinduku pada Aisyah, insan yang pernanh
aku berjanji untuk memimpinnya suatu ketika dahulu. Lalu genggam surat itu, ku
katakan ‘maafkan abang sayang, kerana mengabaikan cintamu....’ hanya kata itu
yang dapat ku luahkan dalam nada sahdu bersulam deruan air mata membasahi pipi
sampai ke dibibirku dan kemudian aku memberikan senyumku pada suratnya sesuai
amanat suratnya itu. Terdengar nada panggilan handphone dari dalam kocek
seluarku. Jauh disana suara seorang wanita yang tidak ku kenali. Dia menyuruh
aku segera ke hospital untuk berjumpa denganku. Dengan segera aku menuju
kesana, katanya ada hal mustahak. Mungkin tentang kesihatanku.
Sampai sahaja di Hospital, aku terus dihampiri jururawat yang pernah
menceritakan perihal bekas tunangku, Aisyah saat pertama tersadar dari komaku
dulu. “ Maaf Encik Rusdi , boleh saya berjumpa dan bebincang dengan anda ? “,
Tanya jururawat itu dengan nada yang sopan. Aku hanya mengangguk dan mengikuti
jururawat itu ke bilik perbincangan khas, hanya aku dengan jururawat
itu sahaja. Ia mengeluarkan buku dari dalam tas tangannya , “ Encik Rusdi ,
saya terjumpa ini dibawah bantal tempat tidur anda”, kata jururawat itu sambil
menyerahkan buku bersampul merah jambu, mirip sampul surat Aisyah yang kubaca
sebentar tadi, lalu jururawat itu berkata lagi , “ Maaf saya
terbaca beberapa halamannya, karena saya tidak tahu siapa yang
empunya buku dairy ini tetapi seperti buku itu adalah Diary milik Aisyah
anda, ”. Tertegun aku sesaat karena belum pernah aku mengetahui Aisyah
memiliki buku diary seperti ini. Kubuka lembaran pertama :
Aisyah Maq’surah , begitu mereka
memanggilku , sebuah nama indah pemberian ibuku atas kelahiranku. Namun
kebahagiaan itu tak seiring dengan kehidupanku yang ku tempuh yang penuh akan
cobaan sebagai seorang wanita. Wanita yang menjadi sebagai pintu gerbang
kehidupan sebuah cinta, bagi pasangan manusia ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih
dan Penyayang.
Melalui diary ini , aku akan berkeluh
kesah mengenai kisah hidupku yang selalu terombang ambing oleh ganasnya
gelombang kehidupan. Kehidupan yang mungkin tak pernah kubayangkan apalagi
kucita-citakan , namun Tuhan telah menggariskan demikian dan aku sebagai
manusia tak berhak untuk bertanya mengapa , melainkan hanya bersyukur dan yakin
bahwa semua itu ada hikmahnya. Walaupun hikmah itu kita akan dapat biarpun kita
telah tiada.
Tahun demi tahun berlalu sudah.
Sebuah cinta yang kami nantikan untuk mendirikan sebuah masjid tidak juga
menjadi kenyataan. Berbagai cubaan kami tempuh selama empat tahun
bersama, namun Tuhan belum juga berkenan memberikan kenyataan untuk kita
bersama , sesungguhnya Allah itu maha mengetahui kisah kita seterusnya.
Betapa sakitnya diriku , manakala
berita itu bagai petir menyambar nyawaku. Kekasihku, yang kucintai …. Akhirnya
dia tak mampu untuk sabar dan mencari jalan lain untuk berusaha, dan terikat
dalam godaan cinta yang lain. Cinta yang baginya akan membawa angin surga, yang
menjanjikan sebuah jalan untuk bahagia. Hingga saat yang ku takutkan itu
terjadi dan aku tak kuasa menolaknya, walaupun berurai air mata , ku ikhlaskan
diri untuk ku pasrahkan menjadi yang kedua baginya.
Belum sempat kuhabiskan apa yang tertulis didairy Aisyah
tiba-tiba.....
Mendadak pandanganku berpusing, lalu aku mengatakan pada jururawat
tersebut.” Kepalaku sakit sekali…Jururawat, mungkin saya harus menginap lagi
hari ini di Hospital ini”. Mendengar keluhanku, Jururawat itu segera memanggil
doktor. Oleh itu doktor sarankan aku untuk kembali beristirahat di Hospital
tersebut. Atas keizinan doktor tersebut aku diizinkan untuk kembali
beristirahat dibilikku yang terdahulu, saat aku koma dulu dengan alasan bahwa
bilik itu lebih tenang. Zahara menghampiriku dan aku memintanya untuk kembali
esok hari karena aku ingin istirahat tenang hari ini. Aku hanya pura-pura tidur
saja saat itu , apabila semuanya telah meninggalkanku bersendiri aku kembali
membuka buku Diary miliki Aisyah. Kuteruskan halaman demi halaman :
Dear Diary……mungkin hari ini dan
seterusnya , hanya dirimulah yang akan mendengarkan curahan hatiku. Tiada yang
ku percaya lagi didunia ini selain engkau ….. Diary dan pena sahabatku, yang
setia dan tak pernah berdusta. Terpahat tulisanku dihalamanmu, itulah curahan
hatiku yang takkan terucapkan pada bakal imamku yang tercinta, yang ku kasih ,
yang telah mengikat diriku dalam pelabuhan cintanya. Mungkin suatu saat
engkaupun akan bercerita padanya namun kuharap tetaplah setia padaku , wahai Diary
kesayanganku,
Bakal imamku …….banyak yang akan
kusampaikan padamu namun tak kuasa bibir ini untuk mencurahkan kata hatiku
padamu. Sehingga aku hanya menuliskan kata-kata hatiku di Diary ini, karena aku
yakin Diary ini tidak akan bersuara seperti bibirku saat ini, biarlah
kucurahkan semua di buku ini agar aku dapat berkeluh kesah tanpa membuat luka
dihatimu.
Wahai kekasihku yang
tercinta……….mungkin tak ada yang mampu kuberikan padamu. Hidupku ibarat sesuatu
yang hampa tanpa sebuah cinta kasih kita yang hadir dalam pelukanmu. Namun
hanya kesetiaanlah yang mampu kuberikan padamu hingga maut menjemputku kelak
dikemudian hari apabila saat itu tiba.
abang sayangku....teringat akan
janji-janji kita dahulu, untuk mendirikan gerbang bahagia bersama. Melayari
bahtera penuh bunga cinta. Memiliki soleh dan solehah yang boleh menghadiahkan
iringan doa tatkala kita tiada nanti, tapi mengapa sikap sabarmu kurang disaat
aku sabar menantimu. Jika aku bukan terbaik bagimu megapa dirimu masih
menatikan aku sehingga kini. Adakah sekadar mahu menyakitkan hati ini. Oh hati
yang lemah, sabarlah hati, kuatkan cintamu pada Ilahi bila dia bersama insan
pilihannya berbahagia, kerana hanya itu yang kau ada saat kau dilukai.
Wahai abang yang kusayang ……Mungkin
sakit ditubuhku ini tak setanding dengan sakitnya hatiku ini ketika engkau
bakal menjadikan aku yang kedua padamu. Mungkin bila aku tidak mengingat
Tuhan…… sudah kulepaskan raga ini meninggalkanmu , namun aku masih ingat janji
ku aku cinta padamu selagi kau cinta pada Tuhan itu yg aku pegang sehingga
kini, akan tetapi cinta ini begitu buta bagiku. Biarlah telinga ini mendengar ,
akan tetapi butakan mataku untuk melihat dirimu bersanding dengannya.
Wahai sayang kekasih hatiku ......
hari ini sudah ada keikhlasan di hatiku. Namun kuharap Tuhan masih membutakan
mataku melihat dirimu, bergandengan tangan dengan dirinya. Oh...abang mengapa
engkau mengikat erat hatiku seperti mengikat bahtera di pelabuhan cintamu
hingga aku tak mampu untuk melepaskan pautanmu yang begitu kuat dari dalam
diriku. Akan tetapi ku mohon tetaplah tersenyum padamu , jangan engkau
menatapku seakan-akan aku tak mampu karena hanya Tuhanlah yang tahu betapa
kuatnya kesetiaan cintaku pada dirimu. Betapa peritnya perasaan yang kulalui
tanpamu disisi.
Setahun telah berlalu, aku terbiasa
sudah kini wahai kasih hatiku. Walaupun luka hatiku tak akan pernah sembuh,
namun kini telah mengeringi dengan seiringngan keringnya air mataku, meratapi
nasipku yang malang ini. Tahukah engkau betapa kuatnya cintaku ? Seandainya
engkau dapat menyelami hatiku ini maka engkau akan menemukan kekuatan cintaku
yang tertanam kuat di dalam sanubari hatiku yang paling dalam. Walaupun
pelabuhan cintamu telah terbahagi dengan tambatan bahtera lain, namun bagiku
takkan mengurangi kadar cintaku untuk setia dengan sepenuh hatiku
padamu. Mungkin salah apa yang aku katakana ini kerana aku bukanlah
isterimu yang halal untukmu, jika dibandingkan hubunganmu dgn diriku, terlalu
hina hubungan ini, tapi aku pasti menjadi halal suatu hari nanti, Insya’Allah.
Wahai sayangku, pujaan hatiku ……sudah
tiga bulan penyakit itu bersarang ditubuhmu. Dirimu bagai hidup di alam maya
dalam pandangan mataku. Nafas lemahmu seakan enggan untuk menarik udara didalam
tabung Oksigen penyambung hidupmu. Tapi dihatiku engkau tetap pujaan hatiku ,
tetap kupilih sebagai imamku nanti, walaupun hingga waktu menghadirkan malaikat
maut untuk menjemputmu. Doa ku pada Tuhan tak pernah sesaat pun terlupa
untuk mendokanmu sayang.
Wahai kekasihku, pemilik hatiku .....
Kini aku sendiri mendampingi dirimu. Bundaku telah pergi meninggalkan dunia
yang fana ini, bahkan ayahkupun seakan tak ingin berpisah lama dengan bundaku,
beliau juga menyusul mendampingi bundaku disisi pusaranya. Kanda.. adakah kita
bahagia seperti mereka atau sebaliknya suatu hari nanti? Namun yang pasti ku
akan tabah mendampingimu walaupun dirimu hanya terbujur kaku dihadapanku.
Wahai kekasih cahaya cintaku.......
Sakit didadaku tak kunjung sembuh dari hari ke hari. Lemas seketika saat aku
mendapatkan berita mengenai penyakitku ini. Barah telah menyelimuti hatiku ,
mungkinkah diriku akan mendahuluimu atau kita akan bersama menyelusuri lorong
waktu menuju pintu akhir kehidupan yang fana ini ? Hmmm.......tidak sayangku
biarlah semua hartaku habis hanya untuk mengobati dirimu, aku akan berkorban
padamu. Warisan orang tuaku hanyalah untukmu , akan kucari doktor yang terbaik
untukmu , akan kucari ubat yang paling mujarab bagimu, aku takkan pernah
menyerah kalah untuk insan yang tersayang wahai bakal suamiku.
Wahai pendamping hidupku …….. banyak
lelaki yang telah menawarkan cintanya padaku, namun jiwaku bukanlah milik
diriku lagi tapi milik engkau wahai sayangku tercinta. Sehingga tak mungkin
lagi bagiku untuk bahagi cinta dengan yang lain, tiada yang mampu untuk membuat
diriku berpaling dari cintaku padamu, namun tak sedetikpun aku ragu tentang
kekuatan cinta kita, walaupun engkau membagikan cinta dengan bunga yang lain
namun engkau tetap pemilik jiwa dan hatiku selamanya, oh.. sayangku.
Wahai Suamiku, cintaku yang abadi …….
betapa bahagianya diriku hari ini Tuhan telah mengkabulkan doaku dalam sembah
sujudku pada-Nya. Ku harap penantian panjang ini akan berakhir dengan senyum
diwajahmu. Pupus sudah kemarau dihatiku …..sadarlah…..sadarlah sedarlah...dari
tidur panjangmu aku akan menjaga dan menantikan detik detik itu.
Wahai abang …oh…sayangku……..
bangunlah , waktuku tak panjang untuk menantikan kebahagiaan ini. Bukalah
matamu sayang….. dengarkanlah bisikan lembutku ditelingamu… wahai bakal suami
ku tercinta....bangunlah…bagunlah permata dihatiku...
aku kini telah dikejar waktu , maut
sudah mengetuk didepan kalam terakhirku, menantikanku untuk kembali kepada
Tuhan Esa dan takkan kembali di sisi hadapanmu wahai sayangku.
Kekasih hatiku……mungkin inilah keluh
kesah terakhirku, rangkaian kata yang akan mengakhiri semua perjalanan hidupku.
Aku akan membawa cinta ini , menjadi memory yang abadi selamanya dihatiku,
sekalipun tubuhku nanti bercampur dengan tanah disamping pusara ayah dan ibuku.
Maafkan aku abang bila aku tak mampu memberikan pengabdianku sepenuhnya untukmu
hingga akhir hayatku, namun aku akan bahagia bila engkau terus meneruskan hidup
didunia ini. Gegamlah tangannya di sisimu……..kini aku tersenyum bahagia
menyaksikannya, tidak seperti dulu saat keikhlasan belum memeluk hatiku ini.
Sayangku…………….”Aku Sangat Mencintaimu, menginginkanmu, mendambakanmu mejadi
ayah kepada mujahid & mujahidah yang akan aku lahirkan kelak”
Kututup Diary itu. Diary yang berisi curahan hati, Aisyah Maq’surah,
pendamping dikala aku susah dan senang ketika dahulu. Terguris rasanya hatiku
apabila selesai membaca curahan hatinya yang terungkap lembar demi lembar di
Diary kesayangannya itu. Hanya penyesalan yang kini hadir dihadapanku , karena
aku telah berdosa mengsia-siakan cahaya yang selalu menerangi hidupku, cahaya
yang tak pernah lelah menjagaku, tak pernah mengeluh berkorban untukku dulu.
Tak kuasa diriku membendung air mata ini untuk tumpah membasahi pipiku lagi.
Tak ada kata yang mampu menggambarkan secara jelas betapa perih dan menyesalnya
diriku saat ini. Kucium Diary itu dan tanpa sengaja tanganku merasakan seperti
ada kertas yang terselip di belakangnya. Ya….itu adalah surat tulisan tangan
dari Aisyah. Tulisannya begitu kabur seperti terkena tumpahan air namun masih
dapat untuk dibaca. Lembar pertama berisikan surat Aisyah yang kutemui di meja
pejabatku subuh tadi. Isinya sama dan kini kufahami mengapa surat
itu ada dua, ada perbezaan dengan surat yang sebelumnya karena surat yang ini
begitu banyak tulisan yang kabur, mungkinkah karena air matanya begitu deras
mengalir saat menulis surat ini fikirku, sehingga terkena pada setiap tulisan
yang di tulis Aisyah terlihat kaburlah tulisan dilembaran itu. Oleh karena itu
maka Aisyah menyalinnya kembali untuk dikirim padaku. Lalu ku terbalik kertas
itu sama kaburnya namun ada isi yang tertulis namun berbeza luahannya. Isinya
tentang surat yang ditujukan untuk Zahara, kemudian kubaca dengan tenang dalam
nada yang sayu :
Assalamualikum wr.wb
Terlebih dahulu Aisyah memohon maaf
padamu. Mungkin dirimu tidak berkenan menerima suratku ini. Namun dengan
kerendahan hati aku memohon padamu , kembalilah pada suamimu. Tak lama lagi dia
akan sedar …… doktor telah mengatakan bahwa saraf-saraf di
otaknya semakin pulih dan telah kembali baik. Rawatan terapinya
berhasil, kini tinggal menunggu saat-saat sedarnya.
Zahara , isteri yang baik, jagalah
abang Rusdi dengan baik. Berikanlah kasih dan sayangmu padanya, sesungguhnya
dia adalah orang yang lemah hatinya , jangan biarkan ia memikul sendiri kehidupan
ini.
Zahara, mungkin waktuku tak dapat
menantikan dirinya, saat ia bangun dari tidurnya yang panjang. Hadirlah, ia
menantikan kehadiranmu dalam mimpinya.
Zahara, bila Tuhan telah mendahului
menjemputku sebelum kebangkitannya dari tidur panjangnya itu. Aku memohon
padamu gantikan aku untuk mengatakan bahwa “ Aku sangat mencintaimu, Wahai
suamiku “, walaupun kalimat itu akan terucap dari bibirmu tapi katakanlah
dengan lembut dan penuh rasa cinta kasih dan wakilkan aku untuk mencium
tangannya sepanjang hidupnya kerana aku tidak mampu untuk memegang tangannya
seumur hidupku.
Mungkin akak tertanya-tanya siapa
aku, cukuplah aku mengatakan akulah insan yang membenarkan cinta antara abang
Rusdi dan kamu menjadi kenyataaan. Aku tidak pasti abang Rusdi pernah
menceritakan tentangku padamu.
Terimakasih Zahara,
Wassalam
Termenung aku seketika, Betapa luar biasa dirinya padaku yang
mengorbankan segalanya untukku. Untuk lelaki yang selayaknya tak patut
mendapatkan kurniaan cinta sebesar ini. Aku tertunduk malu pada diriku sendiri
dan hatiku berkata , “ Aisyah kekasihku……..Aku sangat mencintaimu…aku takkan
melukai cintamu untuk kedua kalinya, cukuplah sudah semua ini …Kuraih pena
disudut meja dan kutulis semua apa yang telah terjadi tentang hidupku
bersamanya di halaman selanjutnya.
Lalu diakhir Nukilan hatiku buatnya diDairy Aisyah :
Cinta....Ungkapan hati dalam bentuk
untaian mutiara kata. Lama aku bertanya dihatiku tentang erti sebuah cinta. Erti Cinta bagi seorang bernama Aisyah, " Cinta yg tak terbagi namun
sanggup untuk berbahagi walaupun tidak mungkin lagi menjadi kenyataan yang kau
impikan ". Cinta yang tak biasa ..... cinta yang tak mengenal lelah dalam
pengorbanannya. Itulah cinta yang sejati dan terukir indah dihati pemiliknya.
Benar sekali itulah cinta insan yang tersayang , yang telah mengorbankan
segalanya demi diriku ini, namun tak sempat bagiku untuk membalas semuanya
karena waktu tidak berpihak padaku. Tapi aku yakin hingga akhir hayatku nanti
aku akan selalu menjaga kesetiaan cinta ini. Aku akan menyulusiri lorong waktu
itu. Aku melihat dirimu berdiri didepan pintu rumah kita menyambut
kedatanganku. Lalu kupeluk dirimu dan aku berkata , “ Aku Sangat Mencintaimu
Sayang…………………………….”
Zahara menutup buku
Diary itu. Mohd Rusdi Ramlee telah meninggal tadi malam. Ia menderita barah
otak hingga mengalami pendarahan di otaknya, namun ia berhasil menyelesaikan
tulisannya dibuku Diary Aisyah Maq’surah itu. Lalu Zahara menuliskan sebuah
judul didepan buku itu “ Diary Kesetiaan Cinta “, lalu
dibawahnya “ Untuk cinta yang abadi selamanya, Aisyah Maq’surah dan Mohd Rusdi
Ramlee “ cinta sejati.....jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
No comments:
Post a Comment
komen anda ?